Rob.. Oh Rob..

Setelah meminta izin dan kemudian dipersilakan untuk melihat-lihat bagian dalam rumah itu (dapur, WC, dsb) aku langsung ke belakang. Sebelum melalui lorong menuju dapur aku harus melewati landasan lantai yang kira-kira tiga puluh sentimeter lebih tinggi dari lantai ruang tamu. Karena penasaran aku lalu bertanya “Bu, ini kok lantainya dibikin agak tinggi kenapa ya?”

“Ooo.. di sini tuh dulu lantai dua mas, sudah amblas. Lha ini kerangka atapnya”, jawab sang Ibu sambil menunjuk ke arah bawah.

DHWUOENGG@#*$!!??

Rob. Kata itu sudah sering sekali aku baca di Suara Merdeka. Semarang sudah menjadi sahabatnya. Namun baru pertama kali aku melihat sendiri dampaknya, serta mendengar secara langsung pengalaman para warga yang sudah terbiasa dengannya.

Penggalan percakapan di atas itu terjadi di salah di salah satu rumah yang aku datangi di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ketika survey PBL beberapa hari lalu. Kelurahan ini terletak di Semarang Utara, dan merupakan tempat pemukiman paling utara, karena di seberang Jalan arteri yang melewati kelurahan ini sudah merupakan pintu masuk pelabuhan Tanjung Mas.

Selengkapnya