Menyajikan Data Menggunakan Diagram secara Dinamis dan Mudah–Google Chart API

Ingin menyajikan data-data dengan diagram secara dinamis di halaman web? Dulu mungkin kita harus berkutat dengan fungsi-fungsi PHP untuk menggenerasi gambar. Itupun, server kita harus mendukung pustaka GD. Menggunakan Flash mempermudah pembuatan diagram yang indah. Namun tidak semua browser mendukung Flash dan memang itulah yang menyebabkan Flash masih dihindari oleh sebagian desainer web. Namun saat ini membuat diagram sangatlah mudah dengan adanya Google Chart API.

Mendengar kata API, sebagian orang mungkin akan takut duluan, berpikir bahwa perlu waktu dan energi khusus untuk mempelajari tata cara penggunaan API tersebut. Jangan salah. API dari Google Chart hanya berupa aturan penulisan URL untuk menampilkan gambar diagram yang kita inginkan. Dalam URL tersebut kita sisipkan informasi-informasi diagram seperti apa yang ingin kita sajikan, berikut datanya-datanya.

Selengkapnya

Medicine 2.0

Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya.

Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak ada batas tegas kapan web ber-revolusi menjadi versi 2.0. Sebagian orang yang pragmatis pun beranggapan ini cuma jargon untuk kepentingan komersiil belaka.

Dalam segi pengertianpun, berbagai sumber menyebutnya dengan cara berbeda. Namun yang dapat tangkap dan simpulkan, di web 2.0 terdapat perbedaan dalam hal:

  1. Konten web tidak lagi didominasi oleh provider-provider besar yang bergerak di bidang informasi, melainkan bergeser ke arah pengguna, dengan menjamurnya blog, social networking, wiki, video, podcasting dan layanan-layanan lain yang memperbolehkan pengguna mewarnai jagad maya ini
  2. Lebih dinamis. Semua informasi di web selalu bergulir. Jika suatu situs statis, maka ia akan tenggelam di tengah arus informasi situs-situs lainnya
  3. Teknologi-teknologi baru seperti AJAX, sindikasi, dsb

Karena sudah begitu berbedanya web zaman dulu dengan zaman sekarang, maka dikatakan web telah berganti generasi.

Apa hubungannya web 2.0 dengan medicine 2.0?

Selengkapnya

Google untuk Membantu Tegakkan Diagnosis

Sudah bukan rahasia lagi kalau dokter juga menggunakan internet untuk mencari-cari informasi guna membantu menegakkan diagnosa pada kasus-kasus yang sulit. Ada yang meneliti keakuratan hasil diagnosa yang mengandalkan mesin pencari Google pada kasus-kasus yang dipresentasikan dalam NEJM. Mereka membandingkan hasil diagnosa yang diambil berdasarkan penelusuran di mesin pencari tersebut dengan diagnosa akhir yang ditegakkan oleh sang penulis. Hasilnya cukup menarik dan dipublikasikan di BMJ.

Mainan Coronary Bypass

Ada sebuah game Flash yang cukup menarik di mana kita bisa berperan sebagai dokter bedah dalam sebuah simulasi open heart surgery, lebih spesifiknya bypass arteri coronaria. Lumayan buat sekedar iseng-iseng di internet.

Skenarionya, kamu harus melakukan bypass arteri coronaria dengan menggunakan autograft vena saphena dari tungkai kanan pasien. Awas, jangan keliru mengambil arteri femoralis.. :D . Setelah itu, ikuti saja perintah-perintahnya. Gampang kok. Tapi hati-hati, kalau teledor dan operasinya gagal, kamu harus mencari pengacara!

Selengkapnya

Kamus Kedokteran Dorland di Internet

Buku apa yang paling tebal sepengetahuan kamu? Kalau aku ditanya seperti itu aku akan menjawab Dorland. Entahlah, ada gak ya yang lebih tebal lagi? Semoga tidak (for people’s sake). Menurutku, mungkin banyak juga anak kedokteran yang juga menjawab jawaban yang sama jika ditanya. Walaupun tebal tapi buku ini agaknya wajib untuk anak kedokteran.

Buku ini disarankan hanya untuk disimpan di rumah sebagai referensi, tidak untuk dibawa-bawa karena berat. Kecuali kamu bawa di dalam mobil. Kalau tidak pernah dibaca pun tidak akan enak buat bantal tidur karena saking tebalnya. Lebih cocok untuk mengganjal pintu. :)) Versi kamus sakunya juga ada. Tapi aku belum pernah lihat baju atau celana memiliki saku cukup besar sehingga muat untuk disisipkan buku saku itu ke dalamnya.

Lalu, bagaimana jika suatu waktu, di suatu tempat kamu berhasrat membuka-buka kamus ini sedangkan buku ‘berbobot’ ini terpaksa kamu tinggalkan di rumah?

Selengkapnya

Domain .web.id Habis, Ganti Domain?

Setelah beralihnya kepengurusan pengelolaan domain .id dari DepKomInfo ke PANDI dan berakhirnya masa gratis penggunaan domain .web.id, akhirnya saat itu telah tiba. Kemarin aku dapat email dari PANDI bahwa domain ini masa berlakunya habis sejak 1 Juli 2007 dan tenggat waktu perpanjangan diberikan sampai 31 Agustus 2007.

Mungkinkah blog ini harus berakhir sampai di sini? Hehehe.. kayaknya nggak. Tapi masih bingung mendingan perpanjang domain ini atau daftar yang Generic Code Top Level Domain sekalian (.com, .org, .net, dsb)? Karena dulu pertimbanganku memakai Country Code Second Level Domain di .web.id semata-mata karena gratis.

Tetapi, penggantian nama domain implikasinya juga besar. Bisa dibilang aku harus memulai dari awal lagi, harus kasih tahu sana kasih tahu sini tentang alamat baruku, juga merubah taut-taut ke blogku di banyak tempat.