Kamus Kedokteran Dorland di Internet

Buku apa yang paling tebal sepengetahuan kamu? Kalau aku ditanya seperti itu aku akan menjawab Dorland. Entahlah, ada gak ya yang lebih tebal lagi? Semoga tidak (for people’s sake). Menurutku, mungkin banyak juga anak kedokteran yang juga menjawab jawaban yang sama jika ditanya. Walaupun tebal tapi buku ini agaknya wajib untuk anak kedokteran.

Buku ini disarankan hanya untuk disimpan di rumah sebagai referensi, tidak untuk dibawa-bawa karena berat. Kecuali kamu bawa di dalam mobil. Kalau tidak pernah dibaca pun tidak akan enak buat bantal tidur karena saking tebalnya. Lebih cocok untuk mengganjal pintu. :)) Versi kamus sakunya juga ada. Tapi aku belum pernah lihat baju atau celana memiliki saku cukup besar sehingga muat untuk disisipkan buku saku itu ke dalamnya.

Lalu, bagaimana jika suatu waktu, di suatu tempat kamu berhasrat membuka-buka kamus ini sedangkan buku ‘berbobot’ ini terpaksa kamu tinggalkan di rumah?

Selengkapnya

Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul “Gajah Mada” karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat bekel (salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan Bhayangkara-sebuah pasukan kecil dengan kemampuan telik sandi (mata-mata) yang terasah yang bertanggungjawab menjaga keselamatan raja. Dengan kata lain pasukan ini merupakan secret service nya kerajaan Majapahit waktu itu.

Buku ini cukup bagus, dan saya sarankan untuk membacanya. Tapi maaf, saya bukan ingin mengupas ceritanya di sini, melainkan saya ingin memuji semangat penulis buku ini yang mengajak kita untuk selalu mengingat kebesaran bangsa kita sejak zaman dahulu. Agaknya semangat ini kurang dimiliki oleh sebagian warga Indonesia.

Saya jadi tersadar bahwa betapa langkanya media-media hiburan yang membawa pesan seperti ini. Coba saja kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Sejarah negeri mereka tidaklah lebih panjang dari sejarah negeri kita. Namun Anda pasti tidak kesulitan untuk menyebutkan judul-judul film-film heroik yang mengisahkan tokoh-tokoh besar maupun peristiwa-peristiwa besar negeri mereka. Bahkan sewaktu saya SD pun saya suka menonton film Tour of Duty-film yang mengisahkan para tentara Amerika yang diterjunkan ke perang Vietnam.

Selengkapnya

The Harsh Cry of the Heron

Beberapa hari yang lalu aku baru baca novel ini, The Harsh Cry of the Heron yang artinya Jeritan Pilu Sang Bangau-kelanjutan dari seri “Tales of The Otori” yang sebelumnya merupakan sebuah trilogi. Walaupun kabar tentang buku ini sudah aku dengar bahkan sebelum buku ini dirilis, dan versi Bahasa Indonesianya pun sudah keluar sejak dulu sekali, tapi baru kemarin ini dapat pinjeman dari temenku dan sempat membaca :D.

Di sini sekali lagi Lian Hearn membuktikan kepiawaiannya memadukan kisah cinta, konflik kekuasaan, serta peperangan yang diberi latar kebudayaan Jepang di zaman feodal. Lewat buku sebelumnya, Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of the Moon, ia telah mengantarkan Otori Takeo, tokoh utama dalam seri ini untuk mempersatukan Tiga Negara. Di buku ini, kisah dimulai pada enam belas tahun setelah keberhasilannya tersebut.

Dikisahkan bahwa Otori Takeo beserta isterinya, Kaede, telah membawa Tiga Negara menuju kedamaian dan kesejahteraan. Mereka dikaruniai tiga orang puteri, di mana dua yang terakhir merupakan kembar. Sebagai bangsawan, tentu saja ketiadaan seorang putera di tengah-tengah mereka menimbulkan kecemasan dalam diri Kaede. Namun tidak demikian dengan Takeo, karena sewaktu ia berusaha merebut Tiga Negara ia mendapat ramalan yang menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membunuhnya, kecuali puteranya sendiri-ramalan yang bahkan isterinya sendiripun tidak tahu.

Di tengah-tengah pemerintahannya yang damai, ia menemukan tanda-tanda ketidaksetiaan dari adik iparnya, Arai Zenko yang masih menaruh dendam pada Takeo karena ayahnya terbunuh dalam usaha Takeo merebut kota Hagi. Lebih buruknya lagi, Arai Zenko ternyata diam-diam mencari dukungan dari kaisar untuk diakui sebagai pewaris resmi Tiga Negara.

Selengkapnya