Medicine 2.0

Maaf, saya tidak tahu apakah ini cocok diterjemahkan sebagai Kedokteran 2.0, jadi saya gunakan istilah asli apa adanya.

Masih ingatkah? Kira-kira setahun sampai dua tahun yang lalu ramai diperbincangkan mengenai web 2.0. Web 2.0 sendiri sebenarnya tidak terlalu konkrit, tidak ada batas tegas kapan web ber-revolusi menjadi versi 2.0. Sebagian orang yang pragmatis pun beranggapan ini cuma jargon untuk kepentingan komersiil belaka.

Dalam segi pengertianpun, berbagai sumber menyebutnya dengan cara berbeda. Namun yang dapat tangkap dan simpulkan, di web 2.0 terdapat perbedaan dalam hal:

  1. Konten web tidak lagi didominasi oleh provider-provider besar yang bergerak di bidang informasi, melainkan bergeser ke arah pengguna, dengan menjamurnya blog, social networking, wiki, video, podcasting dan layanan-layanan lain yang memperbolehkan pengguna mewarnai jagad maya ini
  2. Lebih dinamis. Semua informasi di web selalu bergulir. Jika suatu situs statis, maka ia akan tenggelam di tengah arus informasi situs-situs lainnya
  3. Teknologi-teknologi baru seperti AJAX, sindikasi, dsb

Karena sudah begitu berbedanya web zaman dulu dengan zaman sekarang, maka dikatakan web telah berganti generasi.

Apa hubungannya web 2.0 dengan medicine 2.0?

Yak, benar sekali tebakan Anda. Secara kasar, Medicine 2.0 ini merupakan perkawinan silang antara bidang kedokteran dengan web 2.0. Selain medicine 2.0, terdapat juga istilah health 2.0. Jika health 2.0 menitikberatkan kegunaannya kepada konsumen (pengguna jasa kesehatan), medicine 2.0 berbicara tentang bagaimana para penyedia jasa kesehatan, utamanya para praktisi medis, mencari informasi tentang kedokteran dan berbagi informasi tersebut kepada sesama (teman sejawat) menggunakan web 2.0 sebagai platformnya.

Dunia Kedokteran Latah?

Tidak bisa dipungkiri, munculnya istilah health 2.0 dan medicine 2.0 tak terlepas dari euphoria era web 2.0. Bagaimanapun kita melihatnya, terasa kegatelan mereka–para ‘pioneer’ istilah ini untuk mengadaptasikan istilah ‘versi 2.0’ yang ‘terdengar keren’ ini ke bidang lain. Sejauh penelusuran saya, sepertinya istilah medicine 2.0 pertama kali digunakan Nature. Setelah itu secara sporadis mulai digunakan di sana-sini, terutama oleh para dokter/mahasiswa/praktisi IT yang sering ngeblog. Dari sekian banyak pihak yang memopulerkan istilah medicine 2.0 ini, bisa dibilang Bertalan Mesko-lah–seorang mahasiswa kedokteran tingkat lima di Herbeden University, Hungaria–yang paling berperan besar. Ia bahkan membuat blog carnival bertemakan medicine 2.0 dan sebuah halaman khusus dalam blognya didedikasikan untuk merangkum semua hal tentang medicine 2.0.

Kalau bicara tentang ‘kelatahan’ ini, sebenarnya tidak hanya terjadi di bidang kedokteran/kesehatan. Sewaktu nongkrong dan ngobrol dengan mas Budi Putra di cafe Watoo malam minggu kemarin, saya pun baru tahu kalau ternyata di bidang lain juga terjadi tren pengadaptasian istilah ala 2.0 (baca: two point o) laiknya medicine 2.0. Salah satunya ialah democracy 2.0. Bayangkan suara-suara dan aspirasi rakyat semua disalurkan melalui dunia maya dan berproliferasi secara cepat berkat web.20.

Kalau dilihat sekilas, tren istilah 2.0 ini sepertinya agak salah kaprah ya? Namun menurut saya, tidak apa-apa. Apapun istilahnya, jelas terlihat bahwa generasi baru web saat ini menimbulkan sebuah tantangan bagi profesi kedokteran untuk turut mengambil manfaat darinya.

CONTOH PENERAPAN MEDICINE 2.0

Forum, Social Networking

Forum yang anggotanya terdiri dari para dokter dan mahasiswa kedokteran di Indonesia sebenarnya sudah ada di http://dokter.or.id. Selain itu ada juga milis-milis kedokteran yang trafficnya lumayan ramai. Di tingkat internasional terdapat social networking untuk komunitas dokter, satu yang paling terkenal ialah SocialMD.

Wiki Kedokteran

Maaf kalau saya salah, tapi berdasarkan penelusuran saya, di Indonesia belum ada wiki khusus (selain WikiPedia) yang berisi materi-materi kedokteran yang disusun dari oleh dan untuk dokter. Namun di tingkat internasional ada beberapa. Lihat senarai yang dibuat oleh Bertalan di blognya.

Medical Blogosphere/Blogosfer Kedokteran

Blog menjadi fenomena saat ini. Di sini tempat yang paling leluasa bagi seseorang untuk membagikan informasi tentang sesuatu. Dengan mempunyai sebuah media di tengah-tengah blogosphere, seseorang dapat dengan mudah menyiarkan sesuatu kepada khalayak ramai hanya dengan menekan tombol ‘publish’.

Jika sejumlah dokter memiliki blog yang saling terhubung (melalui suatu taut fisik, ataupun melalui agregasi sindikasi), hubungan antar blog dokter tersebut seolah-olah menjadi dunia tersendiri, yang biasa disebut medical blogosphere.

Banyak yang bisa dilakukan dengan blog, misalnya:

  1. Memublikasikan artikel-artikel ilmiah yang ditulis sendiri. Artikel menarik berikut memberi saran bagi para medical bloggers berkaitan dengan ini.
  2. Menulis case record pribadi, dan membahas kasus-kasus yang unik yang pernah dijumpai. Memang untuk melakukan ini perlu berhati-hati mengenai rahasia profesi.
  3. Mengulas event-event kedokteran
  4. Membahas fenomena yang terjadi dalam lingkup birokrasi kesehatan? *lirik cak moki*
  5. Penerapan vlogging, photologging, atau podcasting juga bisa diaplikasikan untuk menyajikan data-data pendukung, misal: hasil pemeriksaan radiologi, rekaman suara jantung, foto lesi, foto Patologi Anatomi, dsb.

Fitur komentar dalam blog sangat berguna untuk menciptakan suatu diskusi tentang tulisan yang dibuat. Diskusi di sini tidak hanya terbatas dilakukan oleh konsumen kesehatan, namun juga bisa dilakukan oleh praktisi medis lain (teman sejawat).

Publikasi Ilmiah yang Digerakkan Web 2.0

Internet itu bagaikan sebuah keranjang sampah raksasa. Semua orang bisa saja dengan mudah mengisinya.

Saya masih ingat kalimat yang dilontarkan oleh guru saya, seorang profesor di Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Undip. Memang, tidak bisa dipungkiri kalimat itu ada benarnya juga. Pentingnya keakuratan informasi dalam dunia kedokteran membuat para dokter harus berhati-hati dalam menentukan sumber informasi. Sebagus apapun artikel Wikipedia yang kita temukan tidak dapat menjadi landasan kuat dalam artikel ilmiah, apalagi untuk dijadikan alasan pengambilan keputusan medis.

Namun kini sudah bermunculan situs-situs peer-reviewed journal. Salah satunya ialah OpenMedicine. Artikel-artikel kedokteran di sini ditulis oleh para dokter dan direview oleh para sejawat.

Memang, bukan semua yang ada di atas merupakan hal baru, namun sepertinya semangat para dokter belum begitu terasa. Munculnya jargon-jargon seperti medicine 2.0 merupakan salah satu upaya untuk membangkitkan semangat tersebut. Saatnya para dokter juga bangkit dan memanfaatkan secara maksimal potensi kekuatan web 2.0 ini.

Tantangan untuk Para Dokter

  1. Dokter tidak hanya lagi dituntut untuk dapat menggunakan dunia maya dalam mencari informasi, namun juga harus menjadi agen penyebar informasi. Kemampuan dan minat untuk menulis tentunya sangat dibutuhkan, agar semakin banyak materi-materi kedokteran berkualitas yang dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya.
  2. Dokter harus lebih dapat menerima dan beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Dalam mencari informasi, para dokter harus membiasakan diri menggunakan feed aggregator, untuk memantau terus sindikasi dari situs-situs jurnal ataupun tulisan-tulisan sejawatnya. Dalam menyiarkan informasi, tentunya para dokter juga harus familiar dengan perkakas-perkakas pendukungnya, misalnya cara menerbitkan tulisan di blog, sintaks-sintaks wiki, bagaimana cara podcasting, vlogging, dan sebagainya.

Masalah yang saat ini dihadapi

  1. Kesibukan
  2. Keengganan

Para dokter tentunya kaum yang terpelajar. Jadi sebenarnya masalahnya cuma dua itu saja :).

Untuk mengerti lebih jauh mengenai medicine 2.0, saya sarankan memulai dari halaman yang dibuat oleh Bertalan yang saya sampaikan di atas. dr. Dani Iswara juga punya sekumpulan daftar bacaan yang perlu dibaca.

Banyak yang mengakui bahwa arus informasi kedokteran saat ini sangat deras, namun sebenarnya tidak banyak yang menyadari betapa lebih derasnya jika keran web 2.0 ini benar-benar dibuka.

17 komentar pada “Medicine 2.0

  • 19 Desember 2007 pada 22:26
    Permalink

    Sekarang saatnya posting serius:

    Yup back to community

    (udah gitu doank he he he…. maaf)

  • 19 Desember 2007 pada 22:26
    Permalink

    Klo mas Huda sendiri sebagai seorang dokter gimana menyikapinya?
    Maksudnya menyikapi pemikiran banyak orang klo dokter itu terlalu sibuk dan kerjaannya belajar mlulu jika dikaitkan dengan aktivitas nge-blog…

  • 20 Desember 2007 pada 06:05
    Permalink

    ditunggu implementasinya hud :D

  • 20 Desember 2007 pada 08:52
    Permalink

    Hehehe.. lho dokter masih punya keengganan tho!
    (lirak-lirik dokter yang jalan cepat tanpa lihat kanan-kiri hehehe…)
    wah web 2.0 ternyata pengaruhnya besar terhadap dunia kesehatan

  • 20 Desember 2007 pada 14:29
    Permalink

    Hmmm… menurut aku sih segala 2.0 ini membantu banyak mendukung aktivitas berkomunitas apalagi dikaitkan dengan keprofesian. Dari militer sampe kedokteran, dari kemahasiswaan sampai ke-birokratan. Cuman tetap porsi di dunia nyata sebagai tindak nyata aktualisasi ilmu dan diri harus lebih besar. Jadi semacam support aja. Nah sekarang tinggal seberape besar peran teknologi informasi terhadap aktivitas keprofesian tersebut dan menggantikan model2 support yang lama. Sebagai contoh e-mail yang menggeser kedudukan pos. Dan laen-laen.

  • 20 Desember 2007 pada 16:36
    Permalink

    @Praditya
    Wah mas Adit, saya ini masih mahasiswa, blm dokter :).
    Ya.. kalau saya sih memang agak menyayangkan. Mungkin perlu juga diubah paradigma orang banyak yg menganggap hanya orang yg gak punya kerjaan aja yg ngeblog :). Memang, ngeblog butuh waktu. Namun kalau hanya sekedar ngeblog, tanpa harus memikirkan teknologinya (server, instalasi skrip, dsb), menurut saya bukan sesuatu yang berat. Toh sebagian dokter masih sempat menulis buku, dsb. Tinggal energi untuk itu sebagian dialihkan ke sini :D.

    Mungkin perlu dibuatkan semacam fasilitas yg mempermudah ngeblog khusus untuk para dokter. Sehingga mereka gak usah mikirin apa2 selain konten.

    @didut
    oke mas…

    @pudakonline
    yaa.. keengganan untuk menyerap ilmu/skill yg dirasa bukan bidangnya :).

    @deniar
    iya den.. dan aku rasa beberapa orang di dalam masing2 bidang perlu menjadi penggeraknya supaya orang2 lain dalam bidang itu jadi aware.

  • 21 Desember 2007 pada 14:33
    Permalink

    kapan ada pajak 2.0 ya???
    hahaha
    mungkin pas itu pajak jadi transparan dll. kaya IRS.

  • 21 Desember 2007 pada 20:54
    Permalink

    IRS tuh apa Li? Tapi sekarang ketok’e pajak udah lumayan memanfaatkan IT ya? liat di iklan2 :). Lebih bagus lagi klo bisa mbayar pajak via e-gold atau paypal hehehee..

  • 24 Desember 2007 pada 03:01
    Permalink

    semakin banyak warna di dunia blog kedokteran tentu akan sulit menelusurinya satu persatu..[emang penting ditelusuri?? apa manfaatnya jejaring via blog??]

    saya gak sanggup ngikutin banyaknya perkembangan kedokteran yg ada (walaupun hanya satu bidang..emang bole cuman belajar satu bidang aja trus tutup mata bidang yg lain?? tau dikit2 yg laen kan gpp..).. :)

    jd makin banyak dokter yg baca2, bagi2 pengalaman trus nulis di blog (dokumentasi online-nya bs jd buku jg lho..plg ngga dah latihan nulisnya..ikatlah ilmu dgn menuliskannya..), kan otomatis membantu saya dkk yg lain, jd saya gak perlu tll ngubek2 google :D

    apalg makhluk2 sebangsa generasinya huda dkk kan lbh terpapar IT..jd kudu wajib bagi2 ilmu..

    makasi ya.. :)

  • 27 Desember 2007 pada 10:05
    Permalink

    @udiez

    iya, saya juga pake ubuntu. betewe, sampeyan kayaknya salah naruh komentar ya? di tulisan yg ini saya tidak menyinggung atau menampilkan cuplikan ubuntu sama sekali :D

  • 29 Desember 2007 pada 22:41
    Permalink

    baru ngeh tentang yang satu ini. Nice post…

  • 31 Desember 2007 pada 09:18
    Permalink

    Bagus tuh kalau para dokter dah banyak yg bikin blog, semoga kedepan semakin banyak. Selain menulis dan sharing ilmu kedokteran via web yg bisa diakses oleh orang banyak, juga diharapkan bisa bermanfaat buat masyarakat luas.
    Hanya ide aja, bagaimana kalau para dokter memanfaatkan internet untuk buka layanan praktek kesehatan/pengobatan. Mungkin akan sangat membantu, karena sampai saat ini jumlah dokter masih sangat kurang dibanding jumlah penduduk kita yg butuh layanan kesehatan yg lbh baik.
    tks.

  • 31 Desember 2007 pada 11:17
    Permalink

    @Hadi
    Oh iya.. lupa saya masukkan Telemedicine sebagai salah satu penerapan dari medicine 2.0. Terimakasih sudah mengingatkan.

    Tapi tentu saja tidak bisa menggantikan praktek sepenuhnya. Praktek dokter kan tentunya butuh pemeriksaan fisik. Bahkan juga perlu pemeriksaan penunjang. Kalau sekedar konsultasi sih oke.

  • Pingback: Web 2.0, the Future of Medicine and Healthcare » Dani Iswara .Net » Indonesian Medical Doctor Weblog

  • 22 Juli 2008 pada 05:05
    Permalink

    saya masih ragu kalo yang bentuknya medical record seperti yang dikembangkan google dan msn.com.. bukan masalah kemampuan teknologinya tapi justru hambatan di usernya .. contoh gampang : simpus, simkes, sik .. sedikit sekali yang bisa bener2 di bilang jalan .. perubahan sistemnya harus sangat mendasar. Misalnya mungkin alih-alih depkes bikin bank data seperti sekarang yang filosofinya balik lagi jadi sentralisasi mungkin ada baiknya setiap kabupaten ditantang diharuskan untuk bikin situs yang data agregatnya bisa dimanfaatkan oleh tingkat propinsi maupun pusat. Kewajiban setor data apalagi tetap dengan perbolehan dalam bentuk kertas dan sekedar telpon saja benar-benar bikin macet sistem informasi yg ingin dikembangkan tersebut .. bener ngga, bang huda ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *