Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel berjudul “Gajah Mada” karangan Langit Kresna Hariadi, buku 1. Buku lama memang, namun saya baru membacanya. Ini merupakan cerita fiksi yang berlatar kerajaan Majapahit. Di buku pertama yang saya baca ini Gajah Mada masih berpangkat bekel (salah satu pangkat kemiliteran zaman dulu) dan memimpin pasukan Bhayangkara-sebuah pasukan kecil dengan kemampuan telik sandi (mata-mata) yang terasah yang bertanggungjawab menjaga keselamatan raja. Dengan kata lain pasukan ini merupakan secret service nya kerajaan Majapahit waktu itu.

Buku ini cukup bagus, dan saya sarankan untuk membacanya. Tapi maaf, saya bukan ingin mengupas ceritanya di sini, melainkan saya ingin memuji semangat penulis buku ini yang mengajak kita untuk selalu mengingat kebesaran bangsa kita sejak zaman dahulu. Agaknya semangat ini kurang dimiliki oleh sebagian warga Indonesia.

Saya jadi tersadar bahwa betapa langkanya media-media hiburan yang membawa pesan seperti ini. Coba saja kita bandingkan dengan Amerika Serikat. Sejarah negeri mereka tidaklah lebih panjang dari sejarah negeri kita. Namun Anda pasti tidak kesulitan untuk menyebutkan judul-judul film-film heroik yang mengisahkan tokoh-tokoh besar maupun peristiwa-peristiwa besar negeri mereka. Bahkan sewaktu saya SD pun saya suka menonton film Tour of Duty-film yang mengisahkan para tentara Amerika yang diterjunkan ke perang Vietnam.

Sewaktu SD, beberapa kali diadakan pemutaran film-film perjuangan di sekolah saya. Di televisi pun, terutama di saat-saat mendekati hari kemerdekaan RI seperti sekarang ini selalu diputar film-film tentang perjuangan meraih kemerdekaan. Saat ini? Hampir tidak pernah.

Di era kebangkitan perfilman Indonesia seperti saat ini seharusnya film-film yang telah usang itu memiliki pengganti, film-film baru bertemakan perjuangan dengan kualitas gambar dan tata suara yang jauh lebih baik, serta kemasan yang mudah untuk diterima generasi muda saat ini. Kalaupun industri film laga di Indonesia memang belum bangkit, toh seharusnya bisa dimulai dengan film drama. Tapi saya tidak melihatnya sama sekali.

Sewaktu di bangku sekolah, pelajaran sejarah memang menjadi momok bagi saya. Kebanyakan murid sekolah mungkin menemukan keadaan yang sama. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah visualisasi. Kalau saja pelajaran itu bisa dikemas sedemikian rupa dalam media hiburan seperti film, komik maupun novel, dan tidak digarap secara asal-jadi, tentunya generasi muda dapat lebih mengenal pahlawan-pahlawan mereka. Kalau tak kenal maka tak sayang.

Pahlawan-pahlawan yang dimaksud tidak terbatas pada pejuang-pejuang kemerdekaan, tapi bisa juga lebih jauh ke belakang, di zaman kerajaan, ketika wilayah nusantara masih terbentang sampai ke semenanjung malaya, atau lebih jauh lagi. Dan alangkah baiknya kalau bumbu-bumbu cerita mistis yang terkesan murahan seperti film-film silat itu bisa dikurangi, atau dihilangkan.

Pemerintah sebenarnya bisa turut andil dalam hal ini, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada mereka yang concern ke sini. Daripada memaksa anak-anak kecil untuk menghormati para pahlawan, justru rasa bangga dan cinta terhadap pahlawan nantinya akan tumbuh sendiri.

Semoga akan banyak penulis-penulis maupun sineas yang mengusung semangat yang sama seperti Langit Kresna Hariadi ini. Akhir kata, walaupun agak terlalu cepat, selamat hari kemerdekaan RI. Merdeka! :D

11 komentar pada “Media Hiburan untuk Meningkatkan Rasa Bangga Terhadap Bangsa

  • 3 Agustus 2007 pada 12:45
    Permalink

    next destination:

    Candi Sambisari, Candi Kalasan?

    tp when?

    this deadline is killing me!

  • 5 Agustus 2007 pada 07:46
    Permalink

    waru kemarin liat novel itu di gramedia, baca ah… yuuk nulis novel sejarah mas Huda

  • 5 Agustus 2007 pada 18:30
    Permalink

    @zam:
    jalan2 terus nih..

    @evy:
    iya tuh dok, bagus kok… tapi berseri… ada berapa buku ya? Lupa aku :p

  • 5 Agustus 2007 pada 23:42
    Permalink

    Apa yang terjadi bila di tahun 2011 ditemukan jejak bayangan sebuah candi dengan ukuran jauh lebih besar dari Borobudur ? Berpikir macam itu identik dengan ide tentang apa yang terjadi jika bumi ini didatangi sebuah pesawat angkasa luar yang besarnya jauh lebih besar dari sebuah kota (Film The Independent Day)

    Demikianlah candi itu dibuat pada zaman Mataram tepatnya di masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Candi yang sangat besar itu terpaksa dihilangkan dari pandangan mata karena ada pihak-pihak tertentu yang berupaya menghancurkannya, tak ada pilihan lain untuk melindunginya maka ia harus dimurcakan dan hanya dalam bulan purnama tertentu tampak bayangannya, yang hanya lamat-lamat berada di antara ada dan tiada.

    Uwwara Kenya perempuan dari masa silam itu, ia memiliki wajah yang amat cantik yang tak pernah pudar meski sang waktu bergeser deras. Bila Uwwara Kenya murka dari keningnya muncul mata ke tiga yang mampu menghanguskan apa pun. Uwwara Kenya dikawal dengan setia oleh tujuh orang pengikutnya yang oleh karenanya disebut kelompok tujuh, didukung oleh ribuan ekor codot berukuran besar, salah satu di antaranya kelelawar berkulit albino yang yang dengan setia melekat mengikuti ke mana pun majikannya pergi.

    Tujuh pengikut Uwwara Kenya memiliki pertanda berupa ular melingkar yang menempatkan diri di telapak tangan di balik kulit di atas daging yang apabila purnama datang akan menyebabkan terjadinya perubahan tujuh orang gedibal itu, wajah mereka berubah mengerikan dengan kemampuan yang mengerikan.

    Namun Uwwara Kenya memiliki musuh yang dengan mati-matian berusaha melindungi candi itu. Musuh yang berderajad Dharmadyaksa sebuah agama itu berusaha mencegah apa pun yang dilakukan Uwwara Kenya bahkan melalui pertempuran yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Puncak dari pertempuran itu Uwwara Kenya kalah dan memutuskan bereinkarnasi di masa yang akan datang, di mana nantinya ia bisa melanjutkan niatnya menghancurkan candi.

    Namun Sang Dharmadyaksa menyusul bereinkarnasi pula.

    Uwwara Kenya yang terlahir lebih dulu berusaha mati-matian memburu titisan kembali itu yang dipastikan akan terlahir kembali dari perkawinan kakak beradik yang masing-masing tidak menyadari mereka adalah kakak beradik. Uwwara Kenya mengamuk membabi buta, hanya sayang titisan kembali Sang Dharmadyaksa itu dikawal ketat oleh pengikutinya yang berjumlah lima orang yang masing-masing siap berkorban nyawa. Jumlah mereka yang lima selanjutnya disebut sebagai kelompok lima .

    Lima orang pengawal kelahiran kembali Sang Dharmadyaksa berhadapan dengan tujuh orang kaki tangan Uwwara Kenya .

    Adalah ketika Ken Arok baru seorang maling yang malang melintang dan membuat resah akuwu Tumapel Tunggul Ametung, kisah Candi Murca, Ken Arok Hantu Padang Karautan ini dimulai. Parameswara yang ingin mengetahui orang tua kandungnya pergi meninggalkan Bumi Kembang Ayun di Blambangan dan menolak permintaan ayah angkatnya menggantikannya sebagai pimpinan di padepokan olah kanuragan itu.

    Pada saat yang sama seorang gadis bernama Swasti Prabawati justru datang menghadap Ki Ajar Kembang Ayun meminta petunjuk mencari jejak ayahnya yang telah sebulan menghilang. Perkenalan Parameswara dan Swasti Prabawati bermuara ke hubungan asmara tanpa mereka tahu mereka adalah kakak beradik. Parameswara berayah Panji Ragamurti, seorang Patih di Kediri sementara Swasti Prabawati akhirnya tahu ayah yang dicintainya ternyata bukan ayah kandungnya, ia terlahir dari Narasinga melalui pemerkosaan yang dilakukan terhadap seorang perempuan yang akhirnya mati ketika melahirkan gadis buah pemerkosaan itu.

    Amat terlambat Parameswara dan Swasti Prabawati sadar, bahwa Narasinga dan Panji Ragamurti adalah orang yang sama.

    Bayi yang akan lahir dari perkawinan kakak beradik itulah yang justru sedang ditunggu dan diburu-buru oleh Uwwara Kenya dan tujuh orang pengikutnya yang celakanya menempatkan Parameswara dan Swasti Prabawati terjerat takdir sebagai pengikut perempuan itu pula, karena dari masing-masing telapak tangannya muncul tanda ular yang menggeliat menempatkan diri di balik kulit di atas daging.

    Parameswara yang telah berubah menjadi sakti mandraguna sejak menenggak air suci Tirtamarthamanthana Nirpati Vasthra Vyassa Tripanjala harus berperang melawan dirinya sendiri terutama ketika bulan purnama menyita kesadarannya. Namun dengan penuh pengabdian dan bahkan rela berkorban nyawa kelima pelindung kelahiran calon jabang bayi itu berjuang keras memberikan perlawanan.

    Ketika pertikaian itu terjadi, sebuah padang ilalang bernama Karautan sedang menyita perhatian seorang Brahmana bernama Lohgawe dan seorang Empu pembuat keris dari Lulumbang. Padang Karautan itu sungguh sebuah tempat yang mengerikan karena dihuni berbagai binatang buas, setiap malam sering terdengar aum harimau dan lolong ratusan ekor serigala.

    Yang mencuri perhatian Brahmana Lohgawe adalah seorang perampok dan maling kecil bernama Ken Arok yang menjadikan tempat itu sebagai persembunyian. Mata Sang Brahmana Lohgawe sangat awas terhadap keajaiban alam, ia menduga Ken Arok yang maling kecil itu merupakan Titisan Syiwa, yang kelak akan menjadi cikal bakal Raja di tanah Jawa.

    Sebaliknya Empu Gandring yang hadir pula di tempat itu mempunyai ketajaman mata dalam bentuk yang lain, ia melihat sesuatu yang melayang-layang di langit. Empu Gandring merasa was-was tersita perhatiannya oleh batu bintang yang melesat cepat di angkasa, jenis batu yang ia yakini bakal menimbulkan bencana. Dengan ketajaman mata hatinya Empu Gandring berusaha menerka di daerah mana batu bintang itu akan jatuh dan menimbulkan bencana. Meski belum terjadi, Empu Gandring melihat asap berada di mana-mana, asap kekuningan berasal dari bintang jatuh yang menebar kematian, berburu menyergap makhluk apa pun yang berdaging, dihisap habis menyisakan tulang belulang.

    Mata hati Empu Gandring belum mampu melihat, akan jatuh di mana batu bintang itu.

    Dalam perjalanannya, Parameswara harus bersinggungan dengan urusan Ken Arok, karena Hantu dari Padang Karautan itu adalah penjilmaan kembali dari Rakai Walaing Pu Kumbayoni, orang berusia panjang yang menunggu kematiannya di balik Air Terjun Seribu Angsa, orang itulah yang telah memberinya air suci Tirtamarthamanthana Nirpati vasthra Vyassa Tripanjala yang menyebabkan ia menjadi sakti mandraguna karena kesediaannya memenuhi permintaan orang itu dengan membunuhnya.

    Pun keterlibatan Parameswara terhadap Ken Dedes tidak juga bisa dihindari karena pada diri Ken Dedes melekat jiwa Sri Sanjayawarsa, permaisuri Rakai Walaing Pu Kumbayoni yang juga mati di tangan melalui sebilah keris bernama Sang Kelat. Parameswara terpaksa memenuhi permintaan membunuh mereka karena hanya melalui cara itulah ia bisa melindungi anaknya yang bakal menjadi bulan-bulanan Uwwara Kenya .

    Sementara itu di tahun 2011,

    Parra Hiswara mengalami kecelakaan ketika menggali tanah sebagai tandon WC, tanah ambrol menyebabkan ia tertarik oleh gravitasi bumi karena di bawah tanah rupanya terdapat sebuah sumur vertikal. Mahdasari sang Istri mengalami kepanikan luar biasa pun demikian pula dengan para tetangga yang berusaha menolong. Hirkam menggunakan tali carmantel menyusur turun mendapati kenyataan, sumur yang bagai tanpa dasar itu sangat aneh. Hirkam yang berhasil keluar nyaris kehilangan nyawa karena makhluk tak dikenal mencakar punggung dan kakinya.

    Tak ada pilihan lain dan dengan mengabaikan keselamatan Parra Hiswara lobang sumur itu ditutup dan dicor dengan semen. Dengan demikian bisa dipastikan Parra Hiswara terkubur untuk selamanya di gua bawah tanah itu.

    Namun Parra memang mendapati keadaan yang aneh di ruang bawah tanah itu. Ia menemukan tujuh buah meja batu melingkar yang layak disebut tempat tidur karena ada tujuh orang tidur di atasnya. Pada tujuh meja batu di luar hanya ada enam orang berbaring satu di antaranya kosong sementara meja batu di bagian tengah tidur seorang perempuan amat cantik dalam keadaan telanjang bulat.

    Di tempat itulah Parra Hiswara bertemu dengan orang yang memiliki ujut sama dengan dirinya, bak pinang dibelah dua, orang dari masa silam itu mengaku bernama Parameswara, yang mestinya tidur di meja batu ke tujuh namun memilih terpicing beratus ratus tahun lamanya karena tidak sudi menjadi kaki tangan Uwwara Kenya. Parra Hiswara tentu kaget ketika orang itu menyebut telah menunggu pertemuan itu delapan ratus tahun lamanya. Parameswara minta kepada Parra Hiswara agar bersedia membunuh dirinya, hanya itulah cara agar ia bisa keluar kembali ke permukaan.

    Parra Hiswara tidak punya pilihan lain, dengan sebilah keris aneh bernama Sang Kelat yang ia terima, orang itu dibunuh dan ambyar menjadi serpihan abu memunculkan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Parra Hiswara yang berusaha keras bertahan untuk tidak terputar mampu melihat saat-saat terakhir seekor codot berkulit putih muncul dan melukai telapak tangannya.

    Ketika Parra Hiswara tersadar, ia terkejut karena waktu telah berubah menjadi malam penuh bintang. Parra Hiswara menganggap dirinya gila ketika berada di sebuah candi yang sangat besar, candi yang terletak di kaki dua buah gunung, gunung Merapi dan Merbabu, padahal jarak yang membentang dari dua gunung itu ke rumahnya di Malang nyaris empat ratus kilometer.

    Rupanya Parra Hiswara telah terlempar jauh melintasi dimensi ruang dan waktu. Ketika Parra Hiswara kembali ke kota Singasari tak jauh dari Malang , ia mendapati istri yang dicintainya hilang diculik orang.

    Di tahun 2011 itu, kelompok tujuh yang masing-masing memiliki tanda berbentuk ular melingkar di telapak tangannya mulai bermunculan. Pun demikian pula kelompok lima yang memiliki rajah berbentuk cakra mulai muncul pula memberikan perlawanan mati-matian. Apalagi sejak Parra Hiswara muncul di pelataran candi, jejak bayangan candi itu mulai sering muncul dan bisa dilihat di bulan purnama, semakin banyak saja orang yang bisa melihat ujutnya.

    Meski candi itu masih murca, berada di wilayah bayang-bayang antara ada dan tiada.

  • 6 Agustus 2007 pada 14:24
    Permalink

    hud, katanya mo minjem aku :) tuh aku ada sampai seri 4 di rumah :D

  • 7 Agustus 2007 pada 13:55
    Permalink

    @didut:
    oke mas.. kapan2x klo kita kopdaran bawain ya.. aq blm pernah ke rumahmu sih :)

  • 17 Agustus 2007 pada 09:45
    Permalink

    media gimana maaksud loe??
    *mode Jahiliah On*…yang mendidik tuh kayak AFI, IDOL, MAMAMIA, KDI,etc…
    itu dapat meningkatkatkan kreatifitas…

    *mode lugu ON*
    Kalo semua jadi artis, lha artis jadi apa dong????

    bannyyaaaaakkkk!!!!! wakkakkakkaaa

    *sedih*
    gimana bisa maju, bangsa kok diajarin megang microphone dari DPR sampai artis…semua megang microphone..

    MERDEKA!!!!

    Reply comment blog-ku dong??

  • 17 Agustus 2007 pada 16:37
    Permalink

    Ummbbb…
    iya juga sihhh..
    kok kisah2 heroik di negeri Paman Sam laku juga yak..?

    Kalo ngelirik cinema2 negeri sendiri..
    huff, siap2 bioskopnya sepi deh..

    bukan mau pesimis,
    tp emang faktanya aja..
    inget banged dulu waktu masih SD ke bioskop buat nonton film Wali Songo..
    penonton sepiii banged..
    skarang mah kayanya yg laku cuman film cinta2an ato hantu2an aja..

    Ironis memang.. -_-!

    Owya, emang kita udah merdeka yak..?
    Yakiiinnn..? /:)

  • 17 Agustus 2007 pada 16:52
    Permalink

    @sibermedik:
    woi, bangun woi.. kok gak nyambung?

    @none nieke:
    sebenernya bisa diakalin kok.. jangan secara gamblang nunjukin kemasan ‘film pendidikan sejarah’, tapi harus dikemas dengan cara lain. Misalnya, cerita drama sebuah keluarga pejuang, dsb. tapi latarnya sejarah. Jadi campuran fiksi ma sejarah gitu.

    Lagian jamannya film wali songo itu kan agak beda dengan kondisi perfilman sekarang? Coba aja tengok film Gie yg peminatnya juga cukup banyak. Orang gak nganggep itu seperti film dokumenter, melainkan sebuah karya seni sinematografi dengan terobosan baru.. :)

  • 18 Agustus 2007 pada 09:29
    Permalink

    wake up!!! aq compos mentis nulisnya coy…
    niy lg nulis ttg “bahaya” reality show contest eg.: MAMAMIA

  • 20 Agustus 2007 pada 20:06
    Permalink

    Memang, bangsa kita adalah bangsa yang besar, baik dari jumlahpenduduknya dan tanah airnya.. hanya saat ini saja masih [di] gembosi luar dalam kapabilitasnya dengan berbagai skandal dan bencana alam..

    Terlepas dari itu, banyak kalangan yang sadar dan cinta/bela tanah airnya senantiasa bergulat dengan kapasitasnya masing-masing guna memperbaiki kinerja dan citra.., semoga dari penulisan novel tadi dan karya2 nyata anak bangsa lainya bisa terus menyemangatkan dan menggulirkan perbaikan.

    Salam kenal dan salam hangat dari afrika barat! :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *