Situs Resmi BPN – ISMKI

bpnismkiKemarin aku mendapat kabar dari Hamsa – FK Unud kalau situs resmi BPN – ISMKI (Badan Pers Nasional – Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) telah rampung dan sudah bisa diakses di http://bpnismki.org. Situs tersebut dibuat di atas CMS Mambo – software CMS yang bisa dibilang sangat powerful dibandingkan software-software sejenis.

Kabar gembira tentunya untuk seluruh mahasiswa kedokteran se-Indonesia karena saat ini sudah ada satu media milik bersama yang bisa dijadikan wadah untuk bertukar informasi tentang kedokteran dan kegiatan kemahasiswaan. Salut kepada calon teman sejawat di PCYCO – FK Unud yang telah mengusahakan agar ini dapat terealisir.

Sebenarnya dalam Musyawarah Nasional BPN-ISMKI yang diselenggarakan di FKUI 2-4 Februari lalu saya menitipkan oret-oretan Program Kerja kepada delegasi dari Undip yang saya utus. Di oret-oretan Program Kerja itu saya mengusulkan untuk menggunakan platform blog saja agar mengurangi gap teknologi bagi para jurnalis mahasiswa yang hendak mengisi secara rutin.

Selengkapnya

Rob.. Oh Rob..

Setelah meminta izin dan kemudian dipersilakan untuk melihat-lihat bagian dalam rumah itu (dapur, WC, dsb) aku langsung ke belakang. Sebelum melalui lorong menuju dapur aku harus melewati landasan lantai yang kira-kira tiga puluh sentimeter lebih tinggi dari lantai ruang tamu. Karena penasaran aku lalu bertanya “Bu, ini kok lantainya dibikin agak tinggi kenapa ya?”

“Ooo.. di sini tuh dulu lantai dua mas, sudah amblas. Lha ini kerangka atapnya”, jawab sang Ibu sambil menunjuk ke arah bawah.

DHWUOENGG@#*$!!??

Rob. Kata itu sudah sering sekali aku baca di Suara Merdeka. Semarang sudah menjadi sahabatnya. Namun baru pertama kali aku melihat sendiri dampaknya, serta mendengar secara langsung pengalaman para warga yang sudah terbiasa dengannya.

Penggalan percakapan di atas itu terjadi di salah di salah satu rumah yang aku datangi di Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara ketika survey PBL beberapa hari lalu. Kelurahan ini terletak di Semarang Utara, dan merupakan tempat pemukiman paling utara, karena di seberang Jalan arteri yang melewati kelurahan ini sudah merupakan pintu masuk pelabuhan Tanjung Mas.

Selengkapnya

Kemampuan dan Kewenangan di Bidang Kedokteran

Kemarin di Suara Merdeka termuat berita tentang seorang remaja di India berusia 15 tahun yang sudah berani melakukan bedah cesar. Ayahnyalah, dr. K. Murugesan yang mengajarinya dan mengizinkannya. Kebetulan ia mengelola rumah sakit bersalin di kota Manaparai. Lantas saja hal ini mendapat kecaman dari Asosiasi Dokter India.

Eh, malah sang ayah menuduh asosiasi dokter tersebut iri dengan prestasi anaknya. Sudah begitu, ternyata tujuan si anak dilepas melakukan bedah cesar adalah agar tercatat dalam Guinnes Book of Record sebagai ahli bedah termuda??

Kalau ditanya ‘benarkah tindakan si dr. Murugesan ini?’ pastinya jawabannya salah. Ini merupakan tindakan ilegal. Selain itu juga melanggar etika. Aku heran, bagaimana sih jalan pikiran si dokter ini?

Pendidikan-pendidikan profesi, seperti kedokteran agak berbeda dengan pendidikan lainnya. Di sini seseorang menempuh jenjang pendidikan bukan hanya sekedar mencari ilmu. Siapa saja bisa belajar ilmu kedokteran sendiri, bahkan di era informasi sekarang ini bukan hal yang sulit untuk mencari referensi-referensi kedokteran dari manapun. Namun lebih dari itu, jalur pendidikan seperti ini bertujuan agar seseorang yang telah menempuhnya mendapatkan kewenangan untuk melakukan tindakan sesuai dengan profesinya.

Melakukan tindakan yang di luar kewenangannya, apalagi lagi di dunia medis yang bersinggungan dengan keselamatan orang lain merupakan pelanggaran hukum. Bahkan seorang dokter yang yang melakukan di luar kompetensinya (misalnya tindakan medis spesialistik yang bukan keahliannya) juga merupakan pelanggaran kode etik. Jadi seseorang yang dikatakan mampu belum tentu berwenang untuk melakukan tindakan medis.

Lagipula, bagaimana bisa tindakan yang benar-benar diatur oleh hukum dan etika dilakukan oleh seseorang di bawah umur yang belum sepenuhnya dapat bertanggungjawab di mata hukum?

Hari Ini

Hari ini teman-teman kelompok Panumku pada pergi jalan-jalan ke Ketep. Sayangnya aku gak bisa ikut karena di hari ini juga ada agenda Muslem LKMI, salah satu organisasi yang aku ikuti di kampus. Lagipula, Bapakku juga sedang ke Jakarta. Gak enak aja kalau aku keluar kota juga, walau sehari. Sedih juga, gak bisa jalan-jalan :(.

Banyak sekali makanan yang masuk ke nih perut… Pagi menjelang siang, di rumah sudah tersedia gule dan makanan-makanan lain (Ibuku beli lauk jadi karena lagi malas masak). Siangnya, konsumsi untuk acara sidang dalam Muslem cukup menggoda untuk menambah lagi, apalagi melihat bakso ukuran jumbo menghiasi cap jay. Belum lagi snack-snack.

Sorenya, aku izin meninggalkan sidang untuk ke acara kopdar Loenpia di rumah Udey. Acara udah bisa ditebak – makan-makan. Pas banget aku datang ketika sesi acara puncak (lha mangan2x kuwi). Karena perut ini sudah terisi penuh, akhirnya aku cuma ngambil cemilan-cemilan (tapi gak terasa, banyak juga) dan minum2x. Setelah cekakak-cekikik and sholat, and cekakak-cekikikan lagi, kamipun bubar, dilanjutkan dengan kopdar lanjutan di rumahnya mas Dendi. Isinya nonton film Jackie Chan + menghabiskan snack-snack. Kebetulan di sana ada timbangan, sempet nimbang berat badan…! wheew!##%.

Setelah adzan Isya, kembali lagi ke tempat sidang. Mas Harsono juga ikut sesi malamnya. Dia teman satu kelompok Panumku yang senasib tidak ikut jalan-jalan ke Ketep. Sidang berjalan dengan khidmat sehingga makan malam diundur walaupun konsumsi telah siap. Kira-kira jam 10 malam, sidang selesai, dan aku diajak ngenet di hotspot kampus FK Undip, dan saat itulah posting ini dibuat. Tidak lupa ditemani nasi bungkus konsumsi makan malam acara :d.

Selain perut, ada satu lagi yang penuh… Blogku yang penuh dengan spam. Yang pertama, spam dari shoutbox. Padahal sudah aku sisipkan fungsi spam filtering dari akismet. Tapi teteup aja tembus… kenapa yak? Menurut perkiraanku sih karena spammer yg nyerang comment system dengan spam yang nyerang shoutbox itu beda karakteristiknya. Dan orang-orang yang menggunakan jasa akismet untuk menyaring pesan-pesan shoutboxnya tuh masih minim, beda dengan yang menggunakannya pada sistem komentar blog. Hmm.. kayaknya perlu nih menyosialisasikan penggunaan jasa akismet pada blog, biar lebih terbantu :d.

Beralih ke spam yang nyerang sistem komentar. Akhir-akhir ini spam jenis ini juga sering banyak yang lolos filter akismet. Salah satu yang ‘rutin lolos’ isinya selalu sama, yaitu sebuah hash diikuti dengan kalimat ‘Independent newsletter from our foreign friends points our attention to your web project. We are very proud to communicate and colaborate with such partner. Don’t be surprised of being noticed.’ dan diikuti dengan hash lagi. Ada yang mendapat spam serupa?

The Harsh Cry of the Heron

Beberapa hari yang lalu aku baru baca novel ini, The Harsh Cry of the Heron yang artinya Jeritan Pilu Sang Bangau-kelanjutan dari seri “Tales of The Otori” yang sebelumnya merupakan sebuah trilogi. Walaupun kabar tentang buku ini sudah aku dengar bahkan sebelum buku ini dirilis, dan versi Bahasa Indonesianya pun sudah keluar sejak dulu sekali, tapi baru kemarin ini dapat pinjeman dari temenku dan sempat membaca :D.

Di sini sekali lagi Lian Hearn membuktikan kepiawaiannya memadukan kisah cinta, konflik kekuasaan, serta peperangan yang diberi latar kebudayaan Jepang di zaman feodal. Lewat buku sebelumnya, Across the Nightingale Floor, Grass for His Pillow dan Brilliance of the Moon, ia telah mengantarkan Otori Takeo, tokoh utama dalam seri ini untuk mempersatukan Tiga Negara. Di buku ini, kisah dimulai pada enam belas tahun setelah keberhasilannya tersebut.

Dikisahkan bahwa Otori Takeo beserta isterinya, Kaede, telah membawa Tiga Negara menuju kedamaian dan kesejahteraan. Mereka dikaruniai tiga orang puteri, di mana dua yang terakhir merupakan kembar. Sebagai bangsawan, tentu saja ketiadaan seorang putera di tengah-tengah mereka menimbulkan kecemasan dalam diri Kaede. Namun tidak demikian dengan Takeo, karena sewaktu ia berusaha merebut Tiga Negara ia mendapat ramalan yang menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat membunuhnya, kecuali puteranya sendiri-ramalan yang bahkan isterinya sendiripun tidak tahu.

Di tengah-tengah pemerintahannya yang damai, ia menemukan tanda-tanda ketidaksetiaan dari adik iparnya, Arai Zenko yang masih menaruh dendam pada Takeo karena ayahnya terbunuh dalam usaha Takeo merebut kota Hagi. Lebih buruknya lagi, Arai Zenko ternyata diam-diam mencari dukungan dari kaisar untuk diakui sebagai pewaris resmi Tiga Negara.

Selengkapnya