Konten Web Dalam Negeri

Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi internet yang mengalami kerugian, terganggunya proses belajar mandiri mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan referensi di situs web luar negeri, atau paling tidak guncangan bagi para blogger yang tidak bisa blogwalking seperti biasanya :P. Basi banget? Eit, tunggu dulu. Saya bukannya mau bercerita mengenai kejadian yang mengakibatkan putusnya kabel data bawah laut itu. Saya hanya ingin mengajak kita semua berkaca dari peristiwa tersebut.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita pungkiri memberikan kita kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai hal. Namun dengan berbagai kemudahan yang didapat, manusia cenderung untuk mengalami keadaan yang biasa kita sebut ketergantungan. Dan ketika kemudahan itu dicabut, bingunglah mereka. Di era informasi seperti sekarang ini kita memang dituntut untuk melakukan banyak hal dengan cepat dan tidak mungkin kita lepas dari yang namanya teknologi, kecuali kalau kita rela kalah bersaing. Namun yang perlu kita camkan baik-baik, teknologi hanyalah alat. Ia buatan manusia yang tidak luput dari yang namanya salah dan lupa. Jadi sebenarnya adalah salah kalau kita terlalu menggantungkan diri pada teknologi untuk melakukan segala hal, apalagi mendewa-dewakannya.

Sekarang taruhlah memang kita harus menganggap ketergantungan terhadap teknologi itu adalah hal yang wajar di zaman sekarang ini. Dengan putusnya kabel bawah laut beberapa hari lalu praktis hubungan data dari negara Indonesia ke luar negeri putus. Beberapa provider memang masih memiliki jalur peering langsung ke beberapa negara tanpa melalui gateway yang putus tersebut. Namun tentu saja jalur tersebut tidak mencukupi, ibarat pembuluh-pembuluh kolateral jantung harus mengkompensasi obstruksi arteri coronaria (halah..!).

Transaksi data di jaringan dalam negeri tidak mengalami masalah dan seharusnya tidak mengganggu komunikasi dalam negeri. Namun pada kenyataannya, tetap saja pengguna internet dalam negeri mengalami kendala berkomunikasi dengan rekan dalam negerinya. Bagaimana tidak, penyedia-penyedia konten internet yang terpercaya sebagian besar berasal dari luar negeri. Begitu juga dengan penyedia jasa-jasa di internet.
Ambil saja email sebagai contoh. Untuk berkirim email sesama pengguna dalam satu kota saja, pengguna internet yang kebanyakan menggunakan penyedia jasa email gratis seperti Yahoo!, GMail atau Hotmail diharuskan untuk mengakses mailservernya di luar negeri. Pengguna mailserver-mailserver lokal nampaknya tidak mengalami kendala. Namun berapa persen pengguna email yang menggunakan jasa email lokal?

Tambahan lagi, belum jaminan bahwa dalam keadaan putusnya gateway internasional kita tidak akan mengalami gangguan dalam mengakses situs web lokal (penyedia kontennya dari dalam negeri). Hal ini bisa disebabkan karena penyedia konten tersebut melakukan web hosting di server luar negeri. Kalaupun mereka melakukan hosting pada perusahaan dalam negeri, belum tentu pula servernya berada di dalam negeri karena saat ini banyak juga perusahaan-perusahaan web-hosting dalam negeri yang menyewakan dedicated servernya yang berlokasi di luar negeri (biasanya di Amerika Serikat).

Instant Messeging adalah satu lagi contoh layanan web yang banyak digunakan oleh pengguna internet. Untuk yang satu inipun penyedia jasanya masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan luar negeri. Biasanya memang terintegrasi dengan layanan email sehingga memudahkan bagi pengguna karena tidak perlu terlalu banyak membuat account. Dalam keadaan seperti sekarang ini tentu saja sektor ini juga terkena imbasnya. Kemarin siang saja saya tidak bisa melakukan Net Meeting dengan lancar dengan teman-teman Badan Pers Nasional ISMKI. Padahal agendanya cukup penting dan mendesak, membahas rencana kegiatan Musyawarah Nasional BPN awal Februari depan. Teman-teman kedokteran setanah air memang terbiasa untuk menggunakan instant messeging untuk mengadakan rapat-rapat serta diskusi antar institusi untuk mengantisipasi masalah perbedaan tempat.

Tadi saya sempat menyinggung masalah ketergantungan pada teknologi. Dengan melihat fenomena yang saya sampaikan tadi, bisa dibilang kalau kita, masyarakat Indoneisa tidak hanya mengalami ketergantungan pada teknologi. Kita bahkan bisa disebut ketergantungan pada orang yang menciptakan teknologi itu (maksud saya perusahaan-perusahaan penyedia konten web dari luar negeri tadi). Kalau dipikir-pikir bukankah ini memalukan? Selama ini sepertinya biasa-biasa saja, namun dengan kejadian kemarin nampaknya memang kita harus introspeksi lagi.

Di era web 2.0 yang sering digembor-gemborkan ini, pengguna internet pun memiliki kesempatan luas menyumbangkan ide serta informasi dan menorehkan tintanya di lautan maya ini. Wiki serta blog menjadi tren di mana-mana. Saat ini googling dengan keyword berbahasa Indonesia menghasilkan output yang lebih besar ketimbang beberapa tahun silam. Namun lagi-lagi blog-blog instan (istilah saya sendiri untuk blog yang dapat dibuat hanya dengan registrasi dan langsung menulis) tersebut biasanya berasal dari luar negeri, walaupun penulis maupun kontributornya orang Indonesia. Saya jamin tidak semua orang bisa menyebutkan penyedia hosting blog instan yang berasal dari Indonesia.

Lantas di sini siapa yang bisa disalahkan? Pelaku bisnis web dalam negerikah? penggunakah? Atau pemerintah? Pengguna tentunya menginginkan layanan terbaik yang bisa ia dapatkan, tidak peduli bahwa layanan itu didapatnya dari luar negeri maupun dalam negeri karena di dunia maya itu tidak menjadi masalah (kalau tidak ada kejadian seperti kemarin). Nyatanya memang kualitas layanan serta konten web domestik kita kalah dibandingkan dengan milik asing.

Apakah pemain-pemain di bidang IT kita memang tidak mampu untuk membuat produk serta layanan dengan kualitas yang sebanding? Menurut saya sih tidak juga. Banyak programmer serta developer web kita yang cukup handal. Yang jadi masalah ialah kurangnya apresiasi dan penghargaan terhadap karya cipta dan kekayaan intelektual di negeri ini. Untuk apa mereka menghabiskan waktu mereka berkutat dengan kode-kode kalau mereka tidak mendapatkan reward yang pantas? Kalau kita terus mengasosiasikan dan mengait-ngaitkan sebab permasalahan ini biasanya akan menjadi sebuah lingkaran setan. Ujung-ujungnya pemerintah yang disalahkan karena tidak bisa menciptakan iklim bisnis internet yang menjanjikan di Indonesia.

Geliat bisnis internet di Indonesia sebenarnya sudah mulai tampak. Hanya saja porsinya masih sedikit. Kapan ya kita bisa mengandalkan 100% konten serta layanan-layanan web dalam negeri mulai dari email, informasi, referensi, sampai instant messeging? Tantangan buat kita semua baik developer maupun pengguna.

5 komentar pada “Konten Web Dalam Negeri

  • 31 Desember 2006 pada 21:28
    Permalink

    yup kita terbiasa jd konsumen aja..konsumtif..
    mari kembangkan konten lokal..

    hargai karya cipta..
    hindari pembajakan..(pake GNU/Linux..he he he..eh ini termasuk nggga ya..)

    kmrn2 gmail masi idup..jabber bisa..yahoo tewas.. :)

  • 11 Maret 2007 pada 20:47
    Permalink

    setuju juga … hee .. kemaren pas down gara-gara gempa .. web ku juga sempet ga bisa diakses gara-gara ga pake lokal …

  • 22 Maret 2007 pada 17:21
    Permalink

    Hmm… blog ku ini aku taruh di server lokal. Servernya deket banget dari kampus. Dari RS Dr. Kariadi nyeberang doang..

  • 17 Februari 2008 pada 22:28
    Permalink

    tulisan yg menarik. kupas tuntas…
    makanya kita hrs terus mengejar ketinggalan kita dlm teknologi informasi. biar smakin dpt mengurangi ketergantungan dr pihak luar. baik dlm hal soft/hardware.
    kita bisa asal ada kemauan (niat) dan kesempatan… Waspadalah … Waspadalah… he2… Salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *