Salah Panti Asuhan

Bersama Anak-Anak di Yayasan Fifarrul IlallahKemarin (16/12), aku dan beberapa teman di HMI Komisariat FK Undip diundang untuk mengajari adik-adik di Panti Asuhan Fafirru Ilallah materi tentang kesehatan. Materinya tidak begitu dalam memang, karena pesertanya kebanyakan masih SD & SMP, walaupun ada beberapa yang sudah menginjak bangku SMA. Tapi sepertinya mereka lumayan antusias mendengarkannya.

Yang jadi masalah ialah ketika aku dalam perjalanan menuju ke sana. Aku berangkat sendiri, tidak bersama teman-teman dikarenakan Panti Asuhannya terletak di Semarang Timur, sama seperti rumahku. Jadi daripada harus bolak-balik ke kampus dulu baru ke Panti Asuhan, aku janjian dengan temanku untuk ketemuan di suatu tempat yang mudah ditemukan sehingga dari sana kita bisa ke panti asuhan bersama-sama (aku tidak tahu tempatnya).

Akhirnya diputuskan bahwa kita ketemuan di depan masjid Pak Panut, sebelum jembatan. Sepertinya aku mengerti masjid mana yang dimaksud, di Jalan itu ada satu masjid yang cukup besar dan bagus, dan letaknya sebelum jembatan, persis seperti yang disampaikan temanku melalui SMS, walaupun sebenarnya aku tidak tahu nama masjidnya. Akhirnya aku langsung berangkat. Tapi karena di tengah jalan tiba-tiba teringat untuk membawa kamera guna kepentingan dokumentasi, akhirnya aku kembali lagi dan mengambil kamera.

Mungkin gara-gara itu akhirnya aku keduluan. Rombongan teman-temanku sudah sampai di masjid, dan karena tidak menemukanku, akhirnya mereka meneruskan perjalanan tanpa aku. Entah kenapa hari itu sepertinya memang lagi hari sialku. Sudah tertinggal, handphoneku juga lowbatt. Temanku berkali-kali misscall namun akhirnya mati. Untungnya di penghujung nyawa baterai, handphoneku bisa kunyalakan lagi, dan aku mendapatkan SMS dari temanku yang berisi nama panti beserta ancer-ancer nya.

Aku ikuti saja, lewat bawah jembatan, setelah melewati rel kereta api belok kanan. Karena pesannya cuma sampai di situ, akhirnya aku bertanya kepada seorang bapak-bapak.

“Apa di daerah sini ada panti asuhan Pak?”, tanyaku.
“Ooo… iya, ada. Panti Asuhan Al-Mustaghfirin”, jawab Bapak itu.
“Kalau Panti Asuhan Fafirru Ilallah?”, tanyaku lagi, sambil menunjukkan SMS di handphoneku kepadanya. Bapak itu berpikir sejenak, lalu…
“Hmmm… iya, iya…”, ucapnya. “Gini mas, ikutin jalan ini, nanti ketika belokan kamu terus, masuk jalan paving-an. Nanti setelah ada masjid belok kiri. Habis itu pertigaan kedua belok kanan. Nanti kelihatan tuh jelas Panti Asuhan Al-Mustaghfirin.”
“Lho.. kok Al-Mustaghfirin?”
“Iya.. itu sama saja”, jawabnya dengan yakin. Aku jadi bingung. Apa maksudnya panti asuhannya sudah ganti nama ya? Karena dia begitu yakin mengatakannya, langsung saja kuucapkan terimakasih dan melanjutkan perjalanan.

Ketika menjumpai belokan, aku masuk ke jalan pavingan yang cukup untuk dilalui mobil, seperti yang dijelaskan bapak tadi. Dan seperti yang dijelaskan Bapak tadi pula, aku belok kanan di pertigaan yang kedua. Mencari jalannya tidak begitu susah, namun kondisi jalannya yang rusak menjadikan aku harus pelan-pelan melajukan motorku, menghindari lubang-lubang dan genangan air.

Akhirnya aku temukan sebuah gedung bertuliskan “Panti Asuhan Al-Mustaghfirin”. Tapi sepertinya aku tidak melihat sesuatu yang seharusnya ada di sana – mobil yang dinaiki temanku. Tiba-tiba aku merasa tidak yakin dengan ucapan bapak tadi. Jadi aku tanyakan kepada seorang pemuda di sana.

“Mas, apa benar ini Panti Asuhan Fafirru Ilallah?”
“Oo.. bukan, mas. Ini Panti Asuhan Al-Mustaghfirin”. Mungkin aku nampak seperti orang bodoh, karena sudah jelas di sana ada papan bertuliskan nama panti asuhannya.
“Terus, kalau Panti Asuhan Fafirru Ilallah di mana ya, mas?”, tanyaku.
“Masnya tadi dari mana? Dari Stasiun Alas Tuo?”
“Iya…”
“Gini, mas… Mase balik, keluar sampai jalan raya, lalu belok kiri. Nanti ada Pos Kamling di depannya ada tulisannya Yayasan Fafirru Ilallah. Habis itu masih harus masuk jalan kecil lagi di kiri, tapi gampang kok nemuinnya.”

Oalah.. ternyata aku datang ke panti asuhan yang salah. Aku telah ditipu bapak tadi! Ucapku bercanda dalam hati. Padahal bapak tadi sepertinya yakin sekali. Ternyata salah. Setelah aku ucapkan terima kasih, aku kembali ke jalan yang tadi aku lewati. Di jalan raya, aku belok kiri. Dari sana masih agak jauh rupanya, namun jalannya lurus. Akhirnya aku merasa lega setelah menemukan papan dengan tulisan “Yayasan Fafirru Ilallah”. Hanya beberapa menit kemudian aku menemukan panti yang dimaksud.

Sesampainya di sana teman-temanku sudah di tengah-tengah penyampaian materi. Akhirnya aku hanya mengisi materi yang kedua. Lucunya setelah aku menceritakan macam-macam tentang khitan, satu anak yang masih kelas tiga SD sepertinya serius membayangkan. Rupanya setelah aku tanya, dia belum dikhitan. Teman-temannya kemudian malah tambah menakut-nakutinya. Dia hanya bisa tersenyum malu sambil menahan ketakutannya. Hehehe.. kasihan melihatnya.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara games, semacam Cerdas Cermat tentang materi-materi yang baru saja disampaikan. Mereka nampaknya semangat sekali, dan ternyata mereka pintar-pintar lho…

13 komentar pada “Salah Panti Asuhan

  • 18 Desember 2006 pada 13:29
    Permalink

    wah coba tanya aku… aku tahu….

    Aku seringnya ke Al-Mustaghfirin ama keluarga

  • 18 Desember 2006 pada 15:04
    Permalink

    Iya sih.. dari Tlogosari juga gak gitu jauh. Keluargamu salah satu donatur to di sana?
    Kalo Fafirru Ilallah tau gak? Pantinya gak sebagus Al-Mustaghfirin, lho..

  • 21 Desember 2006 pada 03:25
    Permalink

    hehehe, sama saat saya dari semarang ke mranggen terus ke purwodadi … bangjo setunggal ngiwo, bangjo kalih nengen, bangjo tigo lurus mawon … lha dalah bangjo itu sama dengan lampu merah tho … abang ijo, padahal ada juga kuningnya ya.
    Selamat berbakti sosial, moga sukses
    cakmoki
    :)

  • 23 Desember 2006 pada 16:25
    Permalink

    Hohoho…..
    Ya ampuuuun..Kok bisa siiih?? makanya kak, lain kali kalo mau pergi prepare dulu,,,untung masih dalam kota semarang…..hohoho..
    tapi gapapa deh, kan jadi ada pengalamannya kak….
    Oy, ikutan dunk kapan2 kalo acara ke panti…da lama ne ga ikutan acara baksos..
    Gud luck buat acara2 berikutnya ya kak!!!

  • 3 Januari 2007 pada 16:34
    Permalink

    Oke, ntar tak ajak kapan2

  • 9 September 2007 pada 13:35
    Permalink

    Al-Mustaghfirin ??? itu kan nama pantinya temenku, aku pernah kesana.
    Panti Asuhan Fafirru Ilallah lah yang aku juga nggak tau, baru itu? tapi ada hikmahnya juga salah tempat, sapa tau pas romadon mas bisa nawarin ngajar di t4 yang salah tadi. belajar memaafkan juga lah mas, sapa tau bapak sopir lagi butuh duit buat anak-anaknya. kasih sayang bapak kan panjang mas, sepanjang jalan menuju panti Al-Mustaghifin heehe222x

  • 9 September 2007 pada 14:06
    Permalink

    hehehe… boleh deh kapan2…
    thx atas masukannya

  • 11 Februari 2008 pada 23:58
    Permalink

    Wah, gimana donk dengan pepatah: “malu bertanya sesat dijalan”
    Eh udah nanya malah tetap salah jalan… Hehehe
    Mungkin waktu itu mase sedang diuji kesabarannya.
    Kalo gak nyasar mungkin gak ada tulisan tentang “Salah Panti Asuhan”

    Mas Huda ternyata aktivis HMI juga ya? Salam silaturrahim yo mas.
    Aku dulu pernah jadi Sekretaris Umum di HMI Komisariat FT UNRI.
    Banyak pengalaman yg didapat selama aktif di HMI. Tahun 2001 sempat ke Cirebon utk ikut LK II. Berangkat dari Pekanbaru pake bus ke Cirebon. Pulang naik Kereta Api, sempat nunggu 3 jam di terminal dari jam 12 malam, mampir ke kantor PB HMI di Diponegoro trus nginap di Wisma Riau di daerah Slipi.
    Besoknya ke Rawamangun naik bus utk balik ke Pekanbaru – Riau.

    Nyambung gak ya :)

  • 12 Februari 2008 pada 13:09
    Permalink

    Wah, dari Pekanbaru ya? Saya punya banyak temen di Pekanbaru. Saya dulu SMP di Rengat, temen2 saya dari Rengat banyak yg kemudian kuliah di UNRI juga. Tapi sudah banyak yg lost contact :D

  • 12 Februari 2008 pada 17:10
    Permalink

    Pernah di Rengat? SMP berapa mas? Kira-kira tahun berapa?
    Sekarang setelah menikah saya menetap di Jl. Narasinga Kampung Dagang Rengat belakang Danau Raja. Alhamdulillah sudah dikaruniai seorang putra.

  • 13 Februari 2008 pada 21:05
    Permalink

    SD 002 (cuma kelas 6), dan SMP 1. Saya lulus SMP tahun 2000. Wah, iya.. saya tahu tuh Kampung Dagang :D. Gimana Rengat sekarang?

  • 16 Februari 2008 pada 17:55
    Permalink

    Masih ingat dengan Bpk H. Sabri gak?
    Guru SMP 1 dan sekarang beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah.
    Beliau adalah orang tua angkat saya. Waktu mau menikah dulu saya turun dari rumah beliau. Saya berhutang budi banget.

  • 4 Agustus 2009 pada 20:35
    Permalink

    mas boleh tanya alamat lengkap ato mungkin kl ada no. al mustaghfirin yg bisa di hub? thx b4 atas infonya :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *