Idul Adha, Tahun Baru dan Kilas Balik Setahun

Sebelumnya, selamat hari raya Idul Adha dan selamat tahun baru aku ucapkan kepada semua orang yang mengunjungi blogku ini.

Malam pergantian tahun biasanya dirayakan dengan menghabiskan malam di luar, terutama bagi anak-anak muda. Wajar saja, ini momen yang terjadi setahun sekali. Apalagi 1 Januari ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi sebagian adik-adikku di FK Undip yang tanggal duanya ujian.

Walaupun aku tetap mendapat libur, tetap saja aku tidak punya jadwal apa-apa malam tahun baru ini. Memang biasanya begini sih, bukan cuma tahun ini saja. Aku memang kurang tertarik untuk merayakan tahun baru. Lebih baik momen ini digunakan untuk merenung, melompat ke belakang mengingat kembali segala tindak-tanduk kita sepanjang tahun ini. Apa saja yang telah kita dapat, apa saja kekurangan kita dan apa action plan kita ke depan. Berhubung tahun ini aku punya personal blog, aku jadi punya satu gawean baru di malam tahun baru ini, yaitu menorehkan isi kepalaku melalui kata-kata di blog ini.

Selengkapnya

Konten Web Dalam Negeri

Gempa di lepas pantai Taiwan beberapa waktu lalu memang cukup mengguncang kita yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat gempa. Bukan guncangan fisik yang menggetarkan tanah serta bangunan memang, melainkan guncangan-guncangan di berbagai lini kehidupan. Sebut saja usaha-usaha yang membutuhkan koneksi internet yang mengalami kerugian, terganggunya proses belajar mandiri mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan referensi di situs web luar negeri, atau paling tidak guncangan bagi para blogger yang tidak bisa blogwalking seperti biasanya :P. Basi banget? Eit, tunggu dulu. Saya bukannya mau bercerita mengenai kejadian yang mengakibatkan putusnya kabel data bawah laut itu. Saya hanya ingin mengajak kita semua berkaca dari peristiwa tersebut.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa kita pungkiri memberikan kita kemudahan-kemudahan dalam melakukan berbagai hal. Namun dengan berbagai kemudahan yang didapat, manusia cenderung untuk mengalami keadaan yang biasa kita sebut ketergantungan. Dan ketika kemudahan itu dicabut, bingunglah mereka. Di era informasi seperti sekarang ini kita memang dituntut untuk melakukan banyak hal dengan cepat dan tidak mungkin kita lepas dari yang namanya teknologi, kecuali kalau kita rela kalah bersaing. Namun yang perlu kita camkan baik-baik, teknologi hanyalah alat. Ia buatan manusia yang tidak luput dari yang namanya salah dan lupa. Jadi sebenarnya adalah salah kalau kita terlalu menggantungkan diri pada teknologi untuk melakukan segala hal, apalagi mendewa-dewakannya.

Selengkapnya

Salah Panti Asuhan

Bersama Anak-Anak di Yayasan Fifarrul IlallahKemarin (16/12), aku dan beberapa teman di HMI Komisariat FK Undip diundang untuk mengajari adik-adik di Panti Asuhan Fafirru Ilallah materi tentang kesehatan. Materinya tidak begitu dalam memang, karena pesertanya kebanyakan masih SD & SMP, walaupun ada beberapa yang sudah menginjak bangku SMA. Tapi sepertinya mereka lumayan antusias mendengarkannya.

Yang jadi masalah ialah ketika aku dalam perjalanan menuju ke sana. Aku berangkat sendiri, tidak bersama teman-teman dikarenakan Panti Asuhannya terletak di Semarang Timur, sama seperti rumahku. Jadi daripada harus bolak-balik ke kampus dulu baru ke Panti Asuhan, aku janjian dengan temanku untuk ketemuan di suatu tempat yang mudah ditemukan sehingga dari sana kita bisa ke panti asuhan bersama-sama (aku tidak tahu tempatnya).

Akhirnya diputuskan bahwa kita ketemuan di depan masjid Pak Panut, sebelum jembatan. Sepertinya aku mengerti masjid mana yang dimaksud, di Jalan itu ada satu masjid yang cukup besar dan bagus, dan letaknya sebelum jembatan, persis seperti yang disampaikan temanku melalui SMS, walaupun sebenarnya aku tidak tahu nama masjidnya. Akhirnya aku langsung berangkat. Tapi karena di tengah jalan tiba-tiba teringat untuk membawa kamera guna kepentingan dokumentasi, akhirnya aku kembali lagi dan mengambil kamera.

Selengkapnya

Live ShoutBox di Blogku

Hari ini saya memasang Live ShoutBox di blog saya. Live ShoutBox ini gunanya hanya untuk menampung pesan singkat dari para pengunjung serta komentar umum tentang blog saya. Sedangkan untuk memberi komentar tentang tulisan maupun berdiskusi, saya anjurkan untuk menggunakan fasilitas comment yang ada di setiap artikel.

Live ShoutBox ini menggunakan AJAX, jadi tidak perlu lama-lama menunggu memuat halaman blog saya begitu Anda mengirim pesan, melainkan pesan Anda akan langsung fade in. Kalau berikutnya ada pesan datang dari saya atau pengunjung lain, otomatis akan muncul pada jendela Anda tanpa perlu direfresh. Jadi sebenarnya kita bisa chatting di sini :).

Kalau tertarik dan ingin memasangnya juga di blog WordPress Anda, coba saja ke http://blog.jalenack.com/ajax/. Saya juga download dari sana.

Mohon fasilitas ini digunakan dengan bijaksana. :)

KBK di Angkatan 2006

Pagi itu kami Pengurus Harian BEM KU Undip dijadwalkan melakukan presentasi di Angkatan 2006 ruang C. Karena terbentur jadwal kuliah, tinggallah kami berempat – saya, Erlina, Adim dan Ria yang akan mempresentasikan kinerja kami selama masa kepengurusan di depan adik-adik. Akhirnya tugas pembawa acara diserahkan kepada saya.

Presentasi kami biasa saja, seputar perkembangan kampus dan apa saja yang telah kami capai. Yang menarik, ketika dibuka sesi tanya jawab, ternyata pertanyaan adik-adik 2006 saat itu seluruhnya menyangkut masalah kurikulum yang baru diterapkan kepada mereka. Menurut mereka, di kurikulum ini mereka dituntut untuk menguasai materi dalam waktu singkat. Saya bisa melihat hal itu dari draft KBK ketika diadakan lokakarya sebelum tahun ajaran ini dimulai. Namun di sisi lain, mereka pun dijejali dengan berbagai macam tugas yang jumlahnya tak terkira. Akhirnya, bukan belajar yang mereka lakukan, tapi mengejar deadline pengumpulan tugas. Bahkan untuk itu beberapa dari mereka terpaksa bolos untuk menyelesaikan tugas di rumah. Kalaupun tidak bolos, di kampus mereka mengerjakan tugas, bukan mendengarkan kuliah.

Uniknya lagi, pembagian angkatan 2006 menjadi dua kelas dengan blok berbeda membuat mereka kurang mengenali teman-teman seangkatannya sendiri! Jarang ada waktu bagi mereka untuk bercengkerama dengan rekan-rekannya di kelas yang satunya.

Sewaktu awal-awal masuk FK dulu, angkatan kami pun merasakan bagaimana rasanya menerima bermacam-macam tugas, terutama laporan praktikum. Tapi dibandingkan dengan nasib adik-adik 2006 sepertinya berbeda jauh. Saya jadi teringat ketika hendak sholat dzuhur di musholla di gedung dekanat, ada beberapa mahasiswi 2006, kalau tidak salah tiga orang, berkumpul di ujung musholla. Dua dari mereka tidur tergeletak tak berdaya ditemani diktat-diktat anatomi di sampingnya, sedangkan satu orang lagi sedang duduk membalik-balik Atlas Sobotta. Saya sepertinya merasa kasihan kepada mereka, tapi entah mengapa kala itu tidak saya sapa sedikitpun, takut mengganggu. Bahan kuliah anatomi yang saya dan teman-teman tempuh dalam satu semester kini harus mereka telan semua dalam satu bulan. Sama saja dengan SP dong!

Konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan Problem Based Learning sebagai metode pembelajaran para mahasiswanya memang sangat baik untuk diterapkan. Mahasiswa dituntut untuk learning how to learn, selain dalam waktu bersamaan juga menguasai materi. Namun yang saya takutkan, kurangnya pengalaman serta kurangnya fasilitas pendukung membuat disainer kurikulum yang diterapkan di FK Undip ini terlalu jauh melangkah. Semoga dalam waktu dekat jadi diseleggarakan semacam evaluasi penerapan kurikulum ini untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya serta kendala-kendala yang dihadapi.

Pheew…

Pheew… hari yang melelahkan, walaupun sebenarnya tidak ada yang aku lakukan hari ini. Paling tidak melelahkan bagi pikiranku. Kuputuskan tuk segera pulang, mengumpulkan kemudian merangkai serpihan-serpihan kekuatan yang akan kukenakan keesokan harinya, meninggalkan canda tawa teman-temanku yang saat itu sedang bergembira atas hadiah besar yang mereka semua terima – sebuah ”titik panas” baru di kampus, kutiru satu istilah yang disebut oleh salah seorang dari mereka. Beberapa dari mereka berterimakasih padaku, mengucapkan kalimat pendorong semangat padaku, menyampaikan rasa bangganya terhadapku atas apa yang telah aku perjuangkan. Sebenarnya tidak ada yang aku perjuangkan. Dan kalau mereka semua melihatnya lebih dekat, semua hanya buah dari beberapa pertemuan dengan petinggi-petinggi fakultas, tanpa perbedaan pendapat, tanpa adu argumen.

Langsung saja ku kembali ke tempatku berlindung sepanjang musim. Kosong seperti biasa. Melantunkan kesunyian yang memekakkan telinga, meruntuhkan segala keteguhan hati prajurit yang baru berangkat pergi berperang. Meskipun begitu, inilah my home sweet home. Tempatku memanjakan diri, tempatku menempa diri, tempatku membuahkan ide-ide dari sebuah renungan, tempatku bermimpi, tempatku menghitung sisa umurku setiap pagi.

Selengkapnya